open your mind for a new knowledge

Selasa, 11 November 2014

Posted by Litha in | 17.44 No comments
Peran Pendidikan Terhadap Anak Penyandang Disabilitas

     Pendidikan merupakan hal yang penting bagi seluruh anak karena dengan pendidikan martabat seorang anak akan diakui di masyarakat. Anak disabilitas (Difabel) selalu dipandang sebelah mata oleh masyarakat karena terlahir dengan sebuah kekurangan. Masyarakat juga menilai anak difabel tidak perlu mendapatkan pendidikan. Menurut mereka, sia-sia saja anak difabel belajar di sekolah. Namun, hal ini tidak menurunkan semangat anak difabel untuk sekolah dengan didirikannya sekolah luar biasa (SLB) oleh pemerintah. Pada kenyataannya, banyak prestasi-prestasi yang diukir dari anak difabel di kancah nasional maupun internasional.

Pengertian Pendidikan
    Definisi pendidikan. Menurut Sugihartono (dikutip dalam Irham dan Wiyani, 2013, h.19) mengatakan bahwa “Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana yang dilakukan oleh pendidik untuk mengubah tingkah laku manusia, baik secara individu maupun kelompok untuk mendewasakan manusia tersebut melalui proses pengajaran dan pelatihan.” Selanjutnya, menurut UUR.I.No. 2 Tahun 1989, Bab I, Pasal 1 (dikutip dalam Hamalik, 2007, h. 2) mengatakan bahwa “Pendidikan adalah usaha dasar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.” Sedangkan, menurut Sri Rukmini dkk. (dikutip dalam Irham dan Wiyani, 2013, h. 19) mengatakan bahwa “Pendidikan pada hakikatnya merupakan usaha dasar, sengaja, dan bertanggung jawab yang dilakukan oleh seorang pendidik terhadap anak didiknya untuk mencapai tujuan ke arah yang lebih maju.”
     Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah usaha dasar pendewasaan diri dengan mendisiplinkan tingkah laku dan rasa tanggung jawab dengan pemikiran yang rasional.

Pengertian Disabilitas
    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Disabilitas atau difabel adalah penyandang cacat (KBBI, 2008). Sedangkan, menurut Penguin Dictionary of Psychology (2009) disability is “Generally, any lack of ability to perform some fuction more specifically, a cogenital impairment or loss of fuction through trauma, disaese, etc”.

Pengertian Anak
     Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Anak adalah generasi kedua atau keturunan pertama (KBBI, 2008). Sedangkan, menurut American Psychology Association (APA, 2007) child is “A young boy or girl between infancy and adolescence”.

Anak Penyandang Disabilitas (Difabel)
     Pada umumnya, penyandang disabilitas (Difabel) atau lebih dikenal dengan sebutan penyandang cacat memiliki gambaran yang buruk di mata masyarakat. Anak penyandang disabilitas sama seperti anak normal lainnya yang memiliki hak untuk diperlakukan secara adil dan derajat yang sama. Namun, masyarakat selalu menganggap anak difabel sebagai anak yang terlahir untuk meminta belas kasih dari orang lain dan beban bagi keluarganya. Dalam hal ini, pemerintah sudah memberi respon positif kepada anak penyandang disabilitas (Septianingsih & Gusniarti, 2014).
      Pemerintah juga memberikan fasilitas dari segi pendidikan dengan membuat sekolah khusus anak penyandang disabilitas. Pada awalnya, anak difabel tidak bisa menerima kekurangan pada dirinya. Pada hakikatnya, dibutuhkan suatu proses untuk penyesuaian diri dengan kenyataan yang ada (Septianingsih & Gusniarti, 2014).
      Setelah terjadi penyesuaian, anak difabel akan berpendapat bahwa dunia ini adil dan berasumsi mereka layak berada di dunia ini serta layak mendapatkan apa yang mereka inginkan, termasuk pendidikan di sekolah (Mercer & Clayton, 2012).

Pemilihan Sekolah
     Pendidikan sangat penting bagi semua kalangan, termasuk bagi anak difabel. Di Indonesia, pemerintah telah mendirikan beberapa Sekolah Luar Biasa (SLB) hampir diberbagai provinsi untuk menyamaratakan hak mendapatkan pendidikan. Sekolah ini didirikan oleh pemerintah untuk memfasilitasi penyandang difabel dalam mengembangkan kemampuannya dan memberi pengakuan positif terhadap keberadaannya. Namun, sedikit sekali orangtua yang mengingikan anaknya bersekolah di sana (Wasito, Sarwindah, & Sulistiani, 2010). Pendidikan di SLB tidak sama dengan pendidikan normal karena kelainan pada setiap anak yang beragam dan tingkat usia yang berbeda. Perbedaan cara pengajaran pun sangat jauh karena anak difabel harus diajakan secara face to face (Monika & Waruwu, 2006). 
    SLB sendiri menyediakan guru pembimbing khusus, sarana, dan prasarana khusus bagi seluruh penyandang difabel. Mulai dari buku braile dan alat pendengar. Fasilitas seperti ruang kelas yang kondusif bagi para penyandang difabel dan kurikulum yang telah dibuat oleh pemerintah sesuai dengan kebutuhan para penyandang difabel. Namun, banyak juga penyandang difabel yang lebih memilih sekolah di sekolah umum sama seperti anak normal lainnya. Hal ini sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 2/U/1986 telah menyatakan anak cacat bisa ke sekolah umum, apabila siswa tersebut memiliki inteligensi normal (Wasito, Sarwindah, & Sulistiani, 2010).
     Banyaknya anak difabel yang ingin bersekolah di sekolah umum memunculkan sebuah konsep pendidikan baru, yaitu pendidikan inklusif. Pendidikan inklusif ini dibuat agar anak difabel dapat bersekolah di sekolah umum yang terdekat serta dapat berinteraksi dengan anak-anak normal. Di setiap sekolah umum harus memiliki beberapa guru yang dapat mengajarkan pelajaran kepada anak difabel. Namun, terlalu minimnya fasilitas dan tenaga pengajar yang memiliki pengetahuan tentang disabilitas membuat anak difabel terbengkalai (Praptiningrum, 2010).
      Pada prinsipnya, sistem pendidikan inklusif di sekolah umum sangat bagus untuk menyamakan anak difabel dengan anak normal sehingga terjalin sosialisasi dan interaksi di antara mereka jika sistem ini berjalan dengan baik (Praptiningrum, 2010). Berdasarkan penelitian hanya sedikit sekolah umum yang melaksanakan sistem ini, SDN 32 Banda Aceh adalah salah satu sekolah yang berminat menerapkan sistem ini (Wati, 2014).
    
Peran Sekolah Terhadap Anak Disabilitas
     Peran sekolah sangat berpengaruh terhadap perkembangan sosial, salah satunya bagi penyandang difabel. Peranan sekolah sebenarnya untuk membentuk sikap-sikap serta kebiasaan yang wajar dan merangsang potensi yang ada dalam diri (Ahmadi, 1999). Peranan sekolah bagi difabel untuk mengasah potensi dalam diri mereka dengan baik. Peranan guru di sekolah juga penting karena seorang guru akan memotivasi anak difabel untuk terus belajar. Selanjutnya, guru memberikan apresiasi dari segala bentuk hasil pembelajaran dari anak difabel dengan senyuman atau kata-kata yang menjadi motivasi bagi mereka (Humaira, 2012).

Simpulan
     Anak difabel merupakan anugrah dari Tuhan yang harus di syukuri oleh orangtua masing-masing. Anak difabel bukanlah hal yang buruk hanya saja mereka memiliki satu potensi yang menonjol di bidang tertentu. Dengan mendapatkan pendidikan, anak difabel mampu mengembangkan potensi tersebut. Di mana pun seorang anak difabel bersekolah, di SLB maupun di sekolah umum yang menerapkan sistem pendidikan inklusif adalah sama.
     Motivasi yang diberikan oleh guru di sekolah juga memberikan pengaruh terhadap anak difabel untuk memacu mereka dalam mengapai cita-cita. Dari motivasi tersebut, banyak anak difabel yang mengukir prestasi dalam bidang tertentu. Secara tidak langsung anak difabel telah membuktikan walaupun mereka memiliki kekurangan, tetapi tidak menghalangi mereka untuk berprestasi. Orangtua juga merasa bangga atas prestasi yang diukir dan tidak merasa malu memperkenalkan anaknya di dalam masyarakat.
Daftar Pustaka

Ahmadi, A. (1999). Psikologi Sosial: Peran sekolah terhadap perkembangan sosial. Jakarta: Rineka Cipta.
Hamalik, O. (2007). Kurikulum dan pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Humaira, D. (2012). Pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia bagi tunagrahita ringan kelas III di SLB sabiluna Pariaman. Pendidikan khusus 1(3), 106-107. Diunduh dari http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&ved=0CB0QFjAA&url=http%3A%2F%2Fejournal.unp.ac.id%2Findex.php%2Fjupekhu%2Farticle%2Fdownload%2F766%2F634&ei=HShgVP_vDcOhuQTc5IHQCg&usg=AFQjCNHuXSfAttTC8DHkUa1KBob2H8zExA&bvm=bv.79189006,d.c2
Irham, M., & Wiyani, N. A. (2013). Psikologi pendidikan: Teori dan aplikasi dalam proses pembelajaran. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Monika, & Waruwu, F. E. (2006). Anak berkebutuhan khusus: Bagaimana mengenal dan menanganinya. Provite 2(2), 16-17.
Reber, A. S., Allen, R., & Reber, E. S. (2009). Penguin dictionary of psychology (4th ed.). England, UK: Penguin Reference Dictionary.
Septianingsih, E., & Gusniarti, U. (2014). Aku berkarya: Studi kasus ketahanan bating pada difabel yang berwirausaha. Psikologika: Jurnal pemikiran dan penelitian psikologi, 19(2), 156-166.
Sugono, D. (Editor). (2008). Kamus besar bahasa Indonesia pusat bahasa (edisi ke-4). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
VandenBos, G. R. (Ed.). (2007). APA dictionary of psychology (1st ed.). Washington DC, NY: American Psychology Association.
Wasito, D. R., Sarwindah, D., & Suliastiani, W. (2010). Penyesuaian sosial remaja tuna rungu yang bersekolah di sekolah umum. Insan: Media psikologi, 12(3), 138-143.

Kamis, 06 November 2014

Posted by Litha in | 16.35 2 comments


Pengaruh Keluarga Broken Home Terhadap Anak

Pengertian Keluarga
     Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Keluarga adalah bagian dari masyarakat besar yang terdiri dari ibu bapak dan anak-anaknya (KBBI, 2013).  
     Menurut Murdock. Murdock dikutip dalam Lestari (2012, h. 6) menguraikan bahwa “Keluarga kelompok sosial yang memiliki karakteristik tinggal bersama, terdapat kerja sama ekonomi, dan terjadi proses reproduksi”.
     Menurut Reiss. Reiss dikutip dalam Lestari (2012, h. 6) mengatakan bahwa “Keluarga suatu kelompok kecil yang terstruktur dalam pertalian keluarga dan memiliki fungsi utama berupa sosialisasi pemeliharaan terhadap generasi baru”.

Pengertian Anak
     Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Anak adalah keturunan yang kedua (KBBI, 2013). “Anak adalah seorang lelaki atau perempuan yang belum dewasa atau belum mengalami masa pubertas” (“Anak,” 2014).

Pengertian Broken Home
     Menurut Matinka (2011, h. 6) Broken home adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suasana keluarga yang tidak harmonis dan tidak berjalannya kondisi keluarga yang rukun dan sejahtera yang menyebabkan terjadinya konflik dan perpecahan dalam keluarga tersebut”.

Penyebab Broken Home
     Penyebab utama. Setiap keluarga selalu mendambakan sebuah keluarga yang utuh dan harmonis, jauh dari pertengkaran atau perpecahan. Namun, setiap keluarga memiliki masalah dan masalah itu tidak datang begitu saja, tetapi ada penyebab-penyebabnya.
     Penyebab utama terjadinya broken home, yaitu: (a) perceraian, terjadi akibat disorientasi antara suami istri dalam membangun rumah tangga; (b) kebudayaan bisu, ketika tidak adanya komunikasi dan dialog antar anggota keluarga; (c) ketidakdewasaan sikap orangtua, karena orangtua  hanya memikirkan diri mereka daripada anak; dan (d) orangtua yang kurang rasa tanggung jawab dengan alasan kesibukan bekerja. Mereka hanya terfokus  pada materi yang akan didapat dibandingkan dengan melaksanakan tanggung jawab di dalam keluarga (“Kehidupan Anak Broken Home,” 2012).
     Penyebab tambahan. Penyebab tambahan yang memicu terjadinya broken home, yaitu: (a) perang dingin dalam keluarga, karena adanya perselisihan atau rasa benci; (b) kurang mendekatkan diri pada Tuhan, yang membuat orangtua tidak dapat mendidik anaknya dari segi keagamaan; (c) masalah ekonomi, yang tidak jarang menjadi sebab pertengkaran maupun berakhir dengan perceraian;  dan (d) masalah pendidikan, kurangnya pengetahuan suami ataupun istri terhadap keluarga mereka sendiri (“Kehidupan Anak Broken Home,” 2012).

Dampak Broken Home Pada Anak
     Dampak psikologis. Setiap keluarga yang mengalami broken home biasanya akan berdampak anak-anaknya. Orangtua tidak pernah memikirkan konskuensi dari tindakan yang mereka lakukan. Dampak paling utama yang akan melekat sampai anak tersebut dewasa adalah dampak psikologis. Seorang anak dapat berkembang dengan baik jika kebutuhan psikologisnya juga baik.  
      Secara umum anak yang mengalami broken home memiliki (a) ketakutan yang berlebihan, (b) tidak mau berinteraksi dengan sesama, (c) menutup diri dari lingkungan, (d) emosional, (e) sensitif, (f) temperamen tinggi, dan (g) labil. Sebenarnya, dampak psikologis yang diterima seorang anak berbeda-beda tergantung usia atau tingkatan perkembangan anak (Nurmalasari, 2008).
     Dampak bagi prestasi anak. Akibat dari broken home juga mempengaruhi prestasi anak tersebut. Anak broken home cenderung menjadi malas dan tidak memiliki motivasi untuk belajar. Berdasarkan sampel penelitian pada siswa kelas dua SMP Negeri Baleendah 2 Kabupaten Bandung dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan motivasi belajar antara siswa berasal dari keluarga broken home dengan motivasi belajar siswa dari keluarga utuh, motivasi belajar siswa dari keluarga broken home lebih rendah daripada motivasi belajar siswa dari keluarga utuh, keadaan keluarga broken home memberi pengaruh yang cukup signifikan terhadap motivasi belajar siswa (Broto, 2009).
     Dampak bagi perilaku remaja. Remaja broken home yang kurang perhatian membuat self esteem dan self confident rendah sehingga anak cenderung mencari perhatian dari lingkungan. Biasanya dengan memberontak, melakukan bullying, dan bersikap derduktif terhadap lingkungan, seperti merokok, free sex, dan minum minuman keras (Nurmalasari, 2008).

Cara Mengatasi Broken Home
     Tidak semua orang berpandangan bahwa broken home adalah hal yang negatif. Ada yang berpikir bahwa broken home adalah jalan yang terbaik bagi keluarganya. Ada beberapa cara untuk meminimalisir atau mengatasi broken home, antara lain (a) mendekatkan diri kepada Tuhan, (b) berpikir dan berperilaku positif, (c) saling berbagi, dan (d) mencari kegiatan positif (“Broken Home dan Cara Mengatasinya,” 2013).

Simpulan
     Tanpa disadari orangtua, broken home secara tidak langsung memberikan dampak yang signifikan kepada anak-anaknya. Sangat jarang ada orangtua yang memikirkan konsekuensi dari keputusan tersebut. Dari beberapa dampak yang ditimbulkan, dampak psikologis adalah yang paling melekat. Walaupun begitu, sebenarnya tersedia cara untuk mengatasi broken home. Cara tersebut akan efektif bagi setiap keluarga yang mendambakan keluarga utuh dan harmonis.


Daftar Pustaka

Anak. (2014, 6 November). Diunduh dari http://id.wikipedia.org/wiki/Anak

Broken home dan cara mengatasinya. (2014, 3 November). Diunduh dari http://gubukhukum.blogspot.com/2012/12/broken-home-dan-cara-mengatasinya.html

Broto, A. (2009). Pengaruh broken home. Diunduh dari http://bbawor.blogspot.com/2009/03/pengaruh-broken-home.html


Keluarga broken home dan hubungannya dengan perkembangan anak. (2014, 3 November). Diunduh dari http://ikhaidfi.blogspot.com/2013/06/keluarga-brokenhome-dan-hubungannya_16.html


Lestari, S. (2012). Psikologi keluarga: Penanaman nilai dan penanganan konflik dalam keluarga (edisi ke-1). Jakarta: Kencana.


Mantika, D. (2011, November). Pengaruh keluarga broken home terhadap pendidikan remaja Universitas Singaperbangsa, Karawang, INA. Diunduh dari http://www.slideshare.net/dianmantikha/makalah-filsafat-pendidikan-ian


Kehidupan anak broken home. (2014, 3 November). Diunduh dari http://neng-noey.blogspot.com/2012/05/kehidupan-anak-broken-home.html


Nurmalasari, Y. (2008). Broken home: Dampak dan solusi. Diunduh dari http://ddistrictofnaya.blogspot.com/2010/11/brokenhome-dampak-dan-solusi.html


Pustaka Phoenix. (2013). Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi ke-7). Jakarta: Penulis.


 

Senin, 06 Oktober 2014

Posted by Litha in | 19.44 2 comments
Halo semuaaaaaaaaaa.........................
Hari ini adalah hari terakhir saya akan memposting materi KBK Filsafat loh..Hari ini saya akan membahas pokok bahasan yang lebih sesuai dengan jurusan saya yakni Filsafat Psikologi. Kan, kalian pasti pada tahu ya kalau semua ilmu yang ada yaang kita pelajari dari SD sampai Perguruan tinggi itu adalah pecahan-pecahan dari filsafat loh, seperti biologi,antropologi,psikologi,hukum dan masih banyak lagi :)) Kalian pasti pada gak tahu kan??? yang pasti kalian bakalan bingung mempelajari filsafat hehehe.....Tapi seperti kata dosen saya Pak Raja semakin kita pusing mempelajari filsafat berarti para dosen berhasil menyampaikan materi hahaha :D Oke gak perlu berlama-lama lagi saya akan langsung membahas tentang Filsafat Psikologi.





Definisi Filsafat Ilmu


Filsafat Ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu yang ditinjau dari segi ontologis, epistemologi maupun aksiologinya. Dengan kata lain, filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu.

Sistematika Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu merupakan telaahan secara filsafat yang ingin menjawab beberapa pertanyaan mengeenai hakikat ilmu seperti:
  1. Ontologis
  2. Epistemologi
  3. Aksiologi

Fungsi Filsafat Ilmu
Menurut Agraha Suhandi (1989) fungsi filsafat ilmu tidak bisa dilepaskan dari fungsi filsafat secara keseluruhan, yakni:
  1. Sebagai alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada.
  2. Mempertahankan, menunjang, dan melawan atau berdiri netral terhadap pandangan filsafat lainnya.
  3. Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup, dan pandangan dunia.
  4. Memberikan ajaran tentang moral dan etika yang berguna dalam kehidupan.
  5. Menjadi sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan dalam berbagai asspek kehidupan itu sendiri, seperti ekonomi, politik, dll.
Corak dan Ragam Filsafat Ilmu
Beberapa corak ragam filsafat ilmu, yaitu:
  • Filsafat ilmu-ilmu sosial yang berkembang dalam tiga ragam, yaitu meta ideologi, meta fisik, dan metodologi.
  • Filsafat teknologi yang bergeser dari C-E (conditions-ends) menjadi means. Teknologi bukan dilihat sebagai ends, melainkan sebagai kepanjangan ide manusia.
  • Filsafat seni/estetika menempatkan produk seni atau keindahan sebagai kebudayaan, produk domain kognitif dan produk alasan praktis.

Definisi Psikologi


Psikologi berasal dari bahasa Yunani "psyche" yang artinya jiwa dan "logos" artinya ilmu pengetahuan. Secara etimologi psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa , baik mengenai macam-macam gejala, proses, dan latar belakangnya.
Ada beberapa pendapat mengenai definisi psikologi menurut beberapa filsuf, yakni:
  1. Plato dan Aristoteles : Psikologi ialah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang hakikat jiwa serta prosesnya sampai akhir.
  2. Wilhelm Wundt : Psikologi merupakan ilmu pengetahun yang mempelajari pengalaman-pengalaman yang timbul dalam diri manusia, seperti perasaan, panca indra, pikiran,merasa dan kehendak. 
Ruang Lingkup Psikologi
Ditinjau dari segi objeknya, psikologi dibedakan menjadi dua, yakni:
  • Psikologi menyelidiki dan mempelajari manusia
  • Psikologi menyelidiki dan mempelajari hewan yang umumnya lebih tegas disebut psikologi hewan.
 Psikologi yang sekarang ini yang berobjekan manusia dibagi menjadi dua, yaitu:
  • Psikologi umum : psikologi yang mempelajari atau menyelidiki kegiatan-kegiatan atau aktivitas psikis manusia pada umumnya yang dewasa normal dan beradab (berkultur).
  • Psikologi khusus : psikologi yang menyelidiki dan mempelajari segi0segi kekhususan dari aktivitas psikis manusia.
Macam-macam psikologi khusus, yakni:
  • Psikologi Perkembangan
  • Psikologi Sosial
  • Psikologi Pendidikan
  • Psikologi Kepribadian dan Tipologi
  • Psikopatologi
  • Psikologi Kriminal
  • Psikologi Perusahaan
  • Psikologi Indigenous dan Budaya
  • Psikologi Klinis
  • Psikologi Hukum
  • dll
Hubungan Filsafat Ilmu dan Psikologi 
     Filsafat sebagai ilmu pengetahuan pada umumnya membantu manusia dalam mengorientasikan diri dalam dunia. Peranan filsafat terhadap semua disiplin ilmu termasuk psikologi hanya sebagai penggagas dan peletak dasar dan selajutnya ilmu-ilmu itu berkembang sesuai dengan objeknya masing-masing.
     Psikologi akhirnya memisahkan diri dari filsafat karena metode yang ditempuh sebagai salah satu sebabnya, tetapi psikologi masih tetap mempunyai hubungan dengan filsafat. Setelah psikologi berpisah dengan filsafat dan berdiri sendiri sebagai sebuah cabang ilmu baru, tampaknya psikologi melalui berbagai penelitiannya berusaha memberikan gambaran bahwa psikologi mengikuti aturan-aturan penelitian yang berlaku dengan menggunakan cara yang sistematik dan metodologis sehingga hasil penelitiannya dapat dipertanggungjawabkan secara empirik.
     Sebagai cabang ilmu, psikologi termasuk dalam ilmu-ilmu kemanusiaan. Ciri-ciri ilmu kemanusiaan, yaitu:
  • memandang manusia secara keseluruhan sebagai objek dan subjek ilmu
  • titik pandang dan riterium kebenaran yang berbeda dari ilmu-ilmu alam
  • antara subjek dan objek ilmu-ilmu kemanusiaan terdapat proses saling mempengaruhi
Ada dua bidang sehubungan dengan masalah pengetahuan yang benar, yakni:
  1. ikut menilai apa yang dianggap tepat atau benar dalam ilmu-ilmu
  2. memberi penilaian terhadap sumbangan ilmu-ilmu pada perkembangan manusia guna mencapai pengetahuan yang benar
Filsafat ilmu dapat berperan dalam menilai secara kritis apa yang dianggap sebagai pengetahuan yang benar dalam ilmu psikologi. Dalam konteks perkembangan psikologi sosial, filsafat bisa memberikan wacana maupun sudut pandang baru dalam bentuk refleksi teori-teori sosial kontemporer. Filsafat sosial memberikan sumbangan yang besar bagi perkembangan psikologi sosial sekaligus sebagai bentuk dialog antar ilmu yang komprehesif.
    Filsafat bisa menawarkan cara berpikir yang radikal, sistematis, dan rasional terhadapa ilmu psikologi bagi para psikolog, baik prktisi maupun akademis sehingga ilmu psikologi bisa menjelajah ke lahan-lahan yang tadinya belum tersentuh. Ilmu logika yang merupakan salah satu cabang filsafat, para psikolog dibekali kerangka berpikir yang kiranya sangat berguna di dalam kerja-kerja mereka.
    Teori psikologi tradisional masih percaya, bahwa manusia bisa diperlakukan sebagai individu mutlak. Teori psikologi tradisioanal juga masih percaya bahwa manusia bisa diperlakukan sebagai objek. Cara berpikir yang terdapat di dalam disiplin filsafat "kepercayaan-kepercayaan" teori psikologi tradisional tersebut kembali ditelaah sekaligus dicairkan kemungkinan-kemungkinan pendekatan baru yang lebih tepat.

Peran Filsafat dalam Psikologi
    Ilmu logika yang merupakan salah satu cabang filsafat. Metode pendekatan serta penarikan kesimpulan seluruhnya didasarkan pada prinsip-prinsip logika. Dengan mempelajari logika secara sistematis, para psikolog bisa mulai mengembangkan ilmu psikologi secara sistematis, logis dan rasional. Logika klasik dan Logika kontemporer dapat menjadi sumbangan cara berpikir yang besar bagi ilmu psikologi. Filsafat juga memiliki cabang yang cukup penting bagi perkembangan ilmu psikologi, yaitu Etika. Sebagai praktisi, seorang psikolog membutuhkan panduan etis dalam kerjanya, panduan etis ini diterjemahkan dalam bentuk kode etik profesi psikologi. Etika atau psikologi moral hendaknya memberikan konsep berpikir yang jelas dan sistematis bagi kode etik tersebut sehingga bisa diterima secara masuk akal.
    Cabang filsafat yang lain yang sangat mempengaruhi psikologi adalah Eksistensialisme. Tokoh-tokohnya, yaitu:
Soren Kirkegaard
Jean Paul Sartre
http://cdn1.thefamouspeople.com/profiles/images/friedrich-nietzsche.jpg
Friendrich Nietzsche
http://www.usml.edu/upload/institute-for-lay-formation/news/Viktor-Frankl-2.jpg
Viktor Frankl
http://www.famouspsychologists.org/psychologists/rollo-may.jpg
Rollo May

    Eksistensialisme adalah cabang filsafat yang merefleksikan manusia yang selalu bereksistensi di dalam hidupnya. Jadi, manusia dipandang sebagai individu yang terus menjadi yang berproses mencari makna dan tujuan di dalam hidupnya. Dalam konteks psikologi, eksistensialisme mengental menjadi pendekatan psikologi eksistesial atau terapi eksistensial. Berbeda dengan Behaviorisme, terapi eksistensial memandang manusia sebagai subjek yang memiliki kesadaran dan kebebasan.
    Dalam metode, filsafat bisa menyumbangkan metode fenomenologi sebagai alternatif pendekatan di dalam ilmu psikologi. Fenomenologi memang berkembang di dalam filsafat. Tokoh yang berpengaruh, yakni:

http://songandsin.files.wordpress.com/2013/01/edmund_husserl_1.jpg
Edmund Husserl
http://i.telegraph.co.uk/multimedia/archive/02877/heidegger426x536_2877455a.jpg
Martin Heidegger
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjkH8NwWGXMAfvd0W54Ur2AJlhCN8uv8HP6_Bej_yYK4hyphenhyphenugBs5qdqWI-FWYI0SkyKQAYSVxpHdgAxH2A0abuqE3YcsngUXhN1OZ4l4Rk0-80VNMBp-JbzljMspD2IEHg-32KMhbOhj0gs/s1600/Alfred+Schutz.jpg
Alfred Schultz

 
Jean Paul Sartre
Ciri khas fenomenologi adalah pendekatannya yang mau secara radikal memahami hakekat dari realitas tanpa terjatuh pada asumsi-asumsi yang telah dimiliki terlebih dahulu oleh seorang ilmuan. Metode Fenomenologi dapat dijadikan alternatif dari pendekatan kuantitatif yang memang dominan di dalam dunia ilmu psikologi di Indonesia. 
    Filsafat juga bisa mengangkat asumsi-asumsi yang terdapat di dalam ilmu psikologi. Filsafat juga bisa berperan sebagai fungsi kritik terhadap asumsi tersebut. Kritik di sini bukan diartikan sebagai suatu kritik menghancurkan, tetapi sebagai kritik konstruktif supaya ilmu psikologi bisa berkembang ke arah yang lebih manusiawi dan semakin mampu memahami realitas kehidupan manusia. Asumsi itu biasanya dibagi menjadi tiga, yakni asumsi antropologis, asumsi metafisis, dan asumsi epistemologis. Fungsi kritik terhadap asumsi ini penting supaya ilmu psikologi bisa tetap kritis terhadap dirinya sendiri dan semakin berkembang ke arah yang lebih manusiawi.

Nah, itu dia pembahasan tentang filsafat psikologi. Nah, berakhirlah materi-materi tentang filsafat yang bisa saya sampaikan. Terima kasih karena sudah mengikuti terus update materi yang berhubungan dengan Filsafat. Semoga semua pembahasan yang saya berikan dapat bermanfaat buat kalian semua ya.....Thanks for reading my blog, enjoy with our life and see you next time :))))))))))))))) 








sumber:
Buku Pembelajaran KBK Filsafat UNTAR
http://image.slidesharecdn.com/1-140601194101-phpapp02/95/1-pengantar-kuliah-filsafat-psikologi-1-638.jpg?cb=1401669737
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiPXzviHkrj-k8WzvQFMGr8NiSmiwO5UBSNcOFprGUEFTzQG9I67DZOVrB_ep43cimh76yvgOea2xRjEce7TlckbX-E_s2mWLpInx25ElqQgb-3U3XHvSJQqjEcE_d5P5ugIAYqm17gkR8y/s400/sartre+kerja+sambil+rokok.jpg 
http://sekolahminggu.com/wp-content/uploads/2013/08/Soren-Kierkegaard.jpg

http://naffstradiv13.files.wordpress.com/2012/06/psychology.gif?w=280
http://www.psychoshare.com/wp-content/uploads/2014/04/filsafat.jpg 
http://cdn1.thefamouspeople.com/profiles/images/friedrich-nietzsche.jpg
http://www.usml.edu/upload/institute-for-lay-formation/news/Viktor-Frankl-2.jpg
http://www.famouspsychologists.org/psychologists/rollo-may.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjkH8NwWGXMAfvd0W54Ur2AJlhCN8uv8HP6_Bej_yYK4hyphenhyphenugBs5qdqWI-FWYI0SkyKQAYSVxpHdgAxH2A0abuqE3YcsngUXhN1OZ4l4Rk0-80VNMBp-JbzljMspD2IEHg-32KMhbOhj0gs/s1600/Alfred+Schutz.jpg
http://i.telegraph.co.uk/multimedia/archive/02877/heidegger426x536_2877455a.jpg
http://songandsin.files.wordpress.com/2013/01/edmund_husserl_1.jpg

Jumat, 03 Oktober 2014

Posted by Litha in | 20.58 No comments

Haiiii Semuaaaa...........
Sudah lama saya tidak memposting update terbaru dikarnakan saya beberapa hari yang lalu sedang menjalani UTS MKU. Nah, hari ini saya akan kembali membagi ilmu kepada kalian semua masih berhubungan dengan Filsafat Manusia. Hari ini saya akan membahas tentang Eksistensialisme menurut Kirkegaard dan Sertre. Baiklah saya akan memulai pembahasan kita malam ini. Selamat membaca guys...

Eksistensialisme



Eksistensialisme Menurut Kirkegaard


Eksistensialisme merupakan aliran yang pokok utamanya adalah manusia dan cara beradanya yang khas di tengah makhluk lainnya. Jiwa eksistensialisme merupakan pandangan manusia sebagai eksistensi.
Secara etimologi, Ex yang berarti keluar dan Sistensia (sistere) yang berarti berdiri. Manusia bereksistensi adalah manusia baru menemukan diri sebagai aku dengan keluar dari dirinya. Pusat diriku terletak di luar diriku. Eksistensi tidak bisa disamakan dengan "berada" hanya manusialah yang bereksistensi. Eksistensialisme tidak ada pemahaman yang sama. Eksistensialisme dari segi isi bukan satu kesatuan, melainkan gaya berfilsafat. Setiap filsuf mempunyai pendapat-pendapat sendiri. Tokoh-tokoh yang membahas tentang eksistensialisme, yaitu:
  • Kirkegaard
  • Edmund Hurrsel 
  • Martin Heidegger
  • Gabriel Marcci
  • Jean Paul Sartre
  • dll
Konsepsi yang sama diantara para tokoh diatas adalah membatasi tentang manusia konkrit, manusia sebagai eksistensi.

Ciri-Ciri Eksistensialisme sbb:
  • Motif pokok adalah eksistensi, cara manusia berada
  • Bereksistenssi harus diartikan secara dinamis. Berarti menciptakan diri secara aktif, berbuat, menjadi, merencanakan
  • Manusia di pandang terbuka, belum selesai. Manusia terikat pada dunia sekitarnya, khususnya pada sesama.
  • Memberikan penekanan pada pengalaman konkrit

Kirkegaard
Soren Aabye Kirkegaard lahir di Kopenhagen, Denmark 15 Mei 1813. Beliau pernah belaajar di Kopenhagen University dengan studi Teologi, tetapi tidak selesai. Beliau sempat menjauh dari teman dan agamanya. Beliau pernah bertunangan dengan Regina Olsen, namun tidak menikah. Tahun 1849 Beliau kembali memeluk agama Kristen. Beliau meninggal pada tahun 1855 dan beliau di kenal sebagai Bapa Eksistensialisme setelah 50 tahun dari kematiannya.



Pokok Ajaran Kirkegaard
  • Kritik tehadap Hegel. Bahwa Hegel sebagai pemikir besar, tetapi melupakan kalau manusia adalah eksistensi manusia individual dan konkrit. Manusia tidahk dapat dibicarakan "pada umumnya" atau "menurut hakekatnya" karena manusia pada umumnya tidak ada.
  • Yang ada itu adalah manusia konkret yang semua penting, berbeda dan berdiri di hadapan Tuhan
  • Bagi Kirkegaard, eksistensi adalah merealisir diri, mengikat diri dan bebas, dan mempraktikan keyakinan dan mengisi kebebasannya.
  • Hanya manusia bereksistensi karena dunia, binatang dan sesuatu lainnya hanya "ada". Juga Tuhan "ada".
3 Cara Bereksistensi
tiga sikap terhadap hidup ialah sebagai berikut:
  1. Sikap Estetis : merengguh sebanyak mungkin kenikmatan yang dikuasai oleh perasaan.
  2. Sikap Etis : menerima kaidah-kaidah moral , suara hati, dan arah hidup
  3. Sikap Religius ; berhadapan dengan Tuhan
Manusia menjadi seperti di percayainya
Pernyataan Parmenides hingga Hegel "Berpikir sama dengan berada" di tolak oleh Kirkegaard.

Waktu dan Keabadian
Setiap orang adalah campuran dari ketakterhinggaan dan keterhinggaan. Manusia bergerak menuju Allah, tapi juga terpisah dari Allah. Manusia hidup dalam dua dimensi, yaitu Keabadian dan Waktu. Saat berarti titik dimana keabadian dan waktu bersatu.

Subyektivitas dan Eksistensi Sebagai Tugas
  • Eksistensi manusia bukan hanya sekedar fakta
  • Eksistensi manusia adalah tugas yang berarti harus dijalani dengan kesejatian sehingga orang tidak tampil dengan semu
Publik dan Indvidu 
Publik bagi Kirkegaard hanya abstraksi belaka bukan realitas. Manusia harus berani bila ditanya pendapat karena biasanya publik hanya bisa berkomentar diam-diam. Kirkegaard bukan menolak adanya kemungkinan bagi manusai untuk bergabung dengan yang lain, hanya setalah individu bersikap etis, baru lah terjadi penggabungan bersama.
 
Nah, itu dia pembahasan tentang Eksistensialisme menurut Kirkegaard. Selanjutnya saya akan membahas tentang Eksistensialisme Menurut Jean Paul Sartre. Selamat menyimak ya semua............

Eksistensialisme Meenurut Jean Paul Sartre
Eksistensial menurut Sartre sama dengan apa yang di ungkapkan oleh Kirkegaard. Definisi hingga ciri-ciri dari eksistensialisme yang di kemukakan oleh Kirkegaard sama dengan pemikiran Sartre.

Jean Paul Sartre

Jean Paul Sartre lahir di Paris tahun 1905. Beliau menjdi guru pada tahun 1929. Pada tahun 1931 s.d. 1936 beliau menjadi dosen Filsafat di Le Havre. Pada tahun 1941 beliau menjadi tawanan perang dan pada tahun 1942 s.d. 1944 menjadi dosen Loycee Pasteur. Sartre banyak sekali menulis karya filsafat dan sastra di negaranya. Aliran Eksistensialisme yang di anut di pengaruhi oleh Hurrserl dan Heidegger. 

Pemikiran Filsafat Sartre
Sulit sekali menjabarkan pemikiran filsafat Sartre secara singkat. Bagi Sartre manusia mengada dengan kesadaran sebagai dirinya sendiri. Manusia yang eksistensi adalah manusia yang keterbukaan. Bagi manusia eksistensi mendahului esensi. Asas pertama untuk memahami manusia harus mendekatnya sebagai subjektivitas. Apapun makna yang diberikan pada eksistensinya, manusia sendirilah yang bertanggung jawab. Tanggung jawab yang menjadi beban kita jauh lebih besar dari sekedar tanggung jawab terhadap diri kita sendiri.





Tanggung jawab dibedakan menjadi dua dalam pemikiran Sartre, yaitu "berada dalam diri" dan "berada untuk diri". Berada dalam diri sama dengan berada an sich, berada dalam dirinya, berada itu sendiri. Semua yang berada dalam diri itu tidak aktif. Bagi Sartre segala yang berada dalam diri itu memuakkan. Sementara berada dalam diri sama dengan berada yang dalam sadar akan dirinya, yaitu cara berada manusia. Biasanya kesadaran kita bukan kesadaran akan diri melainkan kesadaran diri. Kesadaran kita diberi bentuk kesadaran akan diri. Tuhan tidak bisa dimintai tenggung jawab. Tuhan tidak terlibat dalam putusan yang diambil oleh manusia. Manusia adalah kebebasan dan hanya sebagai makhluk yang bebas dia harus bertanggung jawab. Tanpa kebebasan eksistensi manusia menjadi absurd. Bila kebebasannya ditiadakan, maka manusai hanya sekedar eensensi belaka.

Hal-Hal yang Mengurangi Kebebasan Manusia

Bebrapa kenyataan (kefaktaan) yang mrngurangi penghanyatan kebebasan adalah sebagaai berikut:
  1. Tempat kita berada situasi yang memberi struktur pada kita, tetapi juga kita beri struktur
  2. Masa lalu tidak mungkin meniadakan karna masa lalu menjadikan kita sebagaimana kita sekarang ini
  3. Lingkungan sekitar
  4. Kenyataan adanya sesama manusia dengan eksistensinya sendiri
  5. Maut tidak bisa ditunggu saat tibanya, walaupun pasti akan tiba
Kebutuhan Manusia
Dalam eksistensi manusia kehadiran selalu menjelma ssebagiaa wujud yang bertubuh. Tubuh mengukuhkan kehadiran manusia. Tubuh sebagai pusat orientasi tidak bisa dipandang sebagai  alat semata-mata , tetapi mengukuhkan kehadiran manusia sebagai eksistensi.

Komunikasi dan Cinta
Komunikasi adalah suatu hal yang aprion tidak mungkin tanpa adanya sengketa karena setiap kali orang menemui orang lain pada akhirnya akan saling objektifikasi. Cinta adalah bentuk hubungan keinginan ssaling meiliki (objek cinta). Akhirnya cinta bersifat sengketa karena objektifikasi yang tidak terhindarkan.

Nah, itu lah pembahasan tentang eksistesialisme menurut Jean Paul Sartre. Dan sebelumnya saya juga sudah membahas tentang eksistensialisme menurut Kirkegaard. Sekian ilmu yang bisa saya bagi hari ini jangan lupa untuk selalu mengikuti update materi terbaru sampai besok hari minggu ya....
Jangan lupa comment,kritik,saran dan penilaiannyaya....Thanks for visit my blog ^^ Keep enjoy guys...

Sumber:
http://cdn.slidesharecdn.com/ss_thumbnails/eksistensialisme-121002085401-phpapp01-thumbnail-4.jpg?cb=1349186114 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhHoP9tlbCYy4cWxnLizLpUoG_29E1ey7OXpNNSty8OLbB1n2YpVwO1VupYaVyWGRG74nEJ0JflR1tmG8EX71AI6aHZ-6IGUeeYJgCVdujBDASE4iaHf0YOWSgGQS4PMHQ3pNhaNXNDAOZw/s1600/exist.jpg 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiPXzviHkrj-k8WzvQFMGr8NiSmiwO5UBSNcOFprGUEFTzQG9I67DZOVrB_ep43cimh76yvgOea2xRjEce7TlckbX-E_s2mWLpInx25ElqQgb-3U3XHvSJQqjEcE_d5P5ugIAYqm17gkR8y/s400/sartre+kerja+sambil+rokok.jpg 
http://sekolahminggu.com/wp-content/uploads/2013/08/Soren-Kierkegaard.jpg
http://mrfzx.files.wordpress.com/2013/02/exist2.jpg?w=211&h=299 
Power Point by Dr. Raja Oloan Tumanggor


Search

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter